Distributor resmi Norden-X & Inward Detection Jakarta Barat, DKI Jakarta sales@naimtech.co.id
Panduan

Penyelundupan Ponsel dan Narkoba ke Lapas: Celah dan Cara Menutupnya

Di Porong, tiga ponsel di bawah nasi jagung tertangkap X-ray. Di Singaraja, satu ponsel yang diselipkan di tubuh lolos dan dipakai mengendalikan peredaran sabu. Apa bedanya, dan bagaimana menutup celahnya.

Menara jaga lembaga pemasyarakatan di balik pagar kawat berduri
Menara jaga lembaga pemasyarakatan di balik pagar kawat berduri

Dalam dua minggu terakhir, dua lapas di Indonesia menghadapi upaya penyelundupan ponsel dengan hasil yang bertolak belakang. Di Lapas Kelas I Surabaya di Porong, tiga ponsel di bawah nasi jagung tertangkap mesin X-ray saat barang bawaan pengunjung diperiksa. Di Lapas Kelas IIB Singaraja, sebuah ponsel lolos karena diselipkan di bagian tubuh yang sensitif, lalu dipakai seorang narapidana untuk mengendalikan peredaran sabu di luar tembok.

Perbedaannya bukan soal keberuntungan. Kedua kasus memperlihatkan di mana pemeriksaan di pintu portir sudah kuat dan di mana celahnya masih terbuka. Artikel ini membahas apa yang terjadi, jalur-jalur yang dipakai penyelundup, dan susunan pemeriksaan yang bisa menutup celah tersebut, termasuk peran X-ray barang bawaan dan body scanner transmisi.

Dua kasus, dua hasil yang berbeda

Porong: X-ray menemukan tiga ponsel di bawah nasi jagung

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, petugas layanan kunjungan Lapas Kelas I Surabaya melihat sesuatu yang janggal saat barang bawaan seorang pengunjung berinisial SA (39) melewati mesin X-ray. Di dalam dua wadah makanan plastik, di bawah nasi jagung, ada tiga ponsel yang dibungkus plastik gelembung dan direkatkan ke dasar wadah yang sudah dimodifikasi (JPNN Jatim).

Ponsel itu diduga ditujukan untuk tiga warga binaan kasus narkotika. Temuan awal bahkan menyebut wadah makanannya dimodifikasi oleh salah satu warga binaan, lalu barang diteruskan ke SA lewat pengunjung lain. "Kami berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban di dalam lapas," kata Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman.

Kasus ini contoh pemeriksaan yang bekerja sebagaimana mestinya. Mata petugas tidak akan menemukan ponsel di bawah nasi tanpa membongkar setiap wadah, tetapi di citra X-ray, ponsel adalah salah satu benda paling mudah dikenali: baterai berbentuk persegi panjang yang padat, papan sirkuit, dan kumpulan komponen logam kecil terlihat jauh lebih gelap daripada nasi di sekitarnya.

Singaraja: ponsel lolos karena disembunyikan di tubuh

Kasus kedua berakhir berbeda. Menurut Kepala Satuan Pengamanan Lapas Kelas IIB Singaraja, Putu Rizky Bujangga Suwardana, ponsel masuk saat kunjungan keluarga pada 19 Oktober 2026 dan disembunyikan di bagian tubuh yang sensitif sehingga lolos dari pemeriksaan (Koran Buleleng).

Dampaknya baru terbongkar sepuluh hari kemudian. Polres Buleleng menangkap seorang kurir berusia 16 tahun di Tejakula dengan 36 paket kecil sabu. Kurir itu mengaku sudah sekitar tiga bulan bekerja atas perintah seorang narapidana: menempel paket sabu di titik tertentu, lalu mengirimkan lokasinya lewat ponsel. "Setiap selesai nempel, pelaku langsung mengirimkan lokasi ke bosnya yang ada di lapas," kata Kapolres Buleleng, AKBP Ruzi Gusman.

Lapas kemudian menempatkan narapidana tersebut di sel isolasi, menambah sekat di ruang kunjungan, menggelar razia kamar hingga tiga kali seminggu, dan mengevaluasi kemungkinan kelalaian petugas (Bali Post). Semua langkah itu penting, tetapi tidak satu pun yang melihat ke balik pakaian atau ke dalam tubuh pengunjung.

Mengapa satu ponsel bisa jadi masalah besar

Ponsel di dalam lapas bukan sekadar pelanggaran tata tertib. Kasus Singaraja menunjukkan polanya dengan jelas: satu ponsel cukup untuk menjalankan jaringan peredaran narkoba, merekrut kurir di luar, dan mengatur titik tempel tanpa pelakunya pernah keluar dari sel.

Itulah sebabnya program pemasyarakatan menyandingkan ponsel ilegal dengan narkoba dalam sasaran Zero Halinar: bebas handphone, pungutan liar, dan narkoba. Dari sisi pengamanan, keduanya punya kesamaan penting: ukurannya kecil, mudah disamarkan, dan paling sering masuk lewat jalur yang sah, yaitu kunjungan dan barang titipan.

Empat jalur masuk barang terlarang

Lorong sel tahanan dengan jeruji besi
Razia kamar menemukan barang yang sudah terlanjur masuk. Pemeriksaan di pintu portir mencegahnya masuk sejak awal. Foto: Ron Lach / Pexels

Dari kasus-kasus yang diberitakan sepanjang 2026, jalur masuk barang terlarang ke lapas dan rutan bisa dikelompokkan menjadi empat:

Jalur Contoh modus Alat yang relevan
Barang bawaan dan titipan Ponsel di dasar wadah makanan, sabu di sol sepatu atau kemasan makanan ringan Mesin X-ray konveyor, X-ray genggam
Tubuh pengunjung Ponsel atau paket narkoba diselipkan di bagian tubuh sensitif atau ditelan Body scanner transmisi
Lemparan dari luar tembok Paket sabu dan ponsel dilempar ke area dalam, seperti kasus di Porong pada Februari 2026 CCTV, patroli, jaring pengaman, razia rutin
Orang dalam Barang dibawa oleh oknum yang tidak diperiksa seketat pengunjung Alur pemeriksaan yang sama untuk semua orang, termasuk petugas

Jalur pertama sudah banyak tertangani. Kasus Porong membuktikannya, dan di Pelabuhan Wijayapura, gerbang menuju Nusakambangan, barang bawaan pengunjung kini juga diperiksa dengan mesin X-ray sejak Oktober 2026 (Wartanesia). Jalur kedua yang paling sulit, karena penggeledahan badan punya batas yang jelas.

Batas penggeledahan badan dan detektor logam

Penggeledahan badan berhenti di batas kesopanan dan hak pengunjung. Petugas tidak bisa memeriksa rongga tubuh dengan tangan, dan pemeriksaan yang terlalu invasif terhadap keluarga warga binaan mudah menimbulkan keberatan. Penyelundup memahami batas ini dan memanfaatkannya.

Gerbang deteksi logam (walk-through metal detector) membantu, tetapi punya tiga keterbatasan:

  1. Hanya memberi tanda, bukan gambar. Alarm menunjukkan ada logam di zona tertentu, bukan bentuk dan letaknya. Petugas tetap harus menebak apakah sumbernya ikat pinggang, kawat bra, atau ponsel.
  2. Sensitivitas sering diturunkan. Di lapas besar dengan ratusan pengunjung per hari, alarm yang terlalu sering berbunyi membuat antrean macet. Godaan untuk menurunkan sensitivitas selalu ada.
  3. Tidak melihat benda nonlogam. Paket sabu, ganja, atau pil yang dibungkus plastik hampir tidak mengandung logam, sehingga tidak memicu alarm sama sekali.

Keterbatasan ini bukan hal baru. Pada 2016, Menteri Hukum dan HAM saat itu, Yasonna Laoly, menyebut rata-rata kunjungan di lapas dan rutan besar mencapai 500 hingga 600 tamu per hari. "Menggeledahnya kalau butuh satu menit, mau kapan lagi," katanya saat menjelaskan rencana pengadaan pemindai tubuh (Ditjenpas).

Susunan pemeriksaan yang menutup celah

Diagram lima lapis pemeriksaan di pintu portir lapas: registrasi dan loker, X-ray barang bawaan, gerbang deteksi logam, body scanner transmisi, dan pemeriksaan lanjutan
Setiap lapis menutup celah yang tidak bisa ditutup lapis lainnya.

Tidak ada satu alat yang menyelesaikan semuanya. Yang efektif adalah lapisan pemeriksaan yang saling melengkapi, sehingga barang yang lolos dari satu lapis tertangkap di lapis berikutnya:

  1. Registrasi dan loker. Identitas dicocokkan dengan daftar kunjungan, lalu ponsel dan barang pribadi pengunjung dititipkan. Ini membuat ponsel apa pun yang terdeteksi setelah titik ini otomatis mencurigakan.
  2. X-ray barang bawaan. Makanan, pakaian, dan paket titipan dilihat isinya tanpa dibongkar. Pengunjung juga diuntungkan: makanan tidak perlu diacak-acak di meja periksa.
  3. Gerbang deteksi logam dan detektor genggam. Menandai logam di badan, lalu detektor genggam memastikan titik yang berbunyi.
  4. Body scanner transmisi. Memperlihatkan benda di balik pakaian sekaligus di dalam tubuh, tanpa penggeledahan badan. Lapis inilah yang menutup celah kasus Singaraja.
  5. Pemeriksaan lanjutan. Temuan di layar ditindaklanjuti di ruang periksa terpisah, dicatat dalam berita acara, dan citranya diarsipkan.

Lapis keempat bisa diterapkan untuk semua pengunjung di lapas berisiko tinggi, atau secara selektif untuk pengunjung dan warga binaan yang dicurigai. Konfigurasi yang kami susun untuk lapas dan rutan mengikuti pembagian ini.

Body scanner transmisi di lapas: yang perlu dipahami

Body scanner yang dipakai di bandara internasional umumnya hanya memindai permukaan tubuh. Untuk lapas, yang dibutuhkan adalah body scanner transmisi: sinar X-ray dosis sangat rendah menembus tubuh, sehingga citranya memperlihatkan benda yang ditelan, dimasukkan ke rongga tubuh, atau diselipkan di balik pakaian.

Penggunaannya di pemasyarakatan Indonesia sudah punya rekam jejak. Ditjen Pemasyarakatan dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) pernah mengukur tingkat radiasi body scanner di lapas dan rutan se-DKI Jakarta, termasuk di dalam alat, pada jarak satu hingga lima meter, dan di ruang operator (Ditjenpas). Di Nusakambangan, pemeriksaan dengan body scanner sudah menjadi bagian dari prosedur keluar-masuk lapas (kumparan).

Beberapa hal yang menentukan keberhasilan penerapannya:

  • Dosis dan standar. FB-SCAN memakai dosis 0,3 µSv per pemindaian pada mode standar dan mengacu pada standar ANSI N43.17. Penjelasan lengkap tentang angka ini, termasuk perbandingannya dengan radiasi latar, ada di artikel dosis radiasi body scanner.
  • Izin dan proteksi radiasi. Alat pembangkit radiasi pengion memerlukan izin pemanfaatan dari Bapeten, petugas proteksi radiasi, dan pemantauan dosis bagi operator. Urus perizinan ini sejak tahap perencanaan, bukan setelah alat tiba.
  • Privasi pengunjung. Layar operator ditempatkan di ruang tertutup yang tidak terlihat dari antrean, dan citra hanya dibuka oleh petugas yang berwenang.
  • Waktu pemindaian. Satu pemindaian hanya beberapa detik, jauh lebih cepat dan lebih bermartabat daripada penggeledahan badan menyeluruh. Ini penting saat ratusan pengunjung datang di jam kunjungan.
  • Operator terlatih. Citra transmisi perlu dibaca oleh operator yang tahu seperti apa anatomi normal dan seperti apa benda asing. Pelatihan awal dan penyegaran berkala sama pentingnya dengan alatnya.

X-ray barang titipan: apa yang dicari operator

Deretan wadah makanan plastik berisi nasi dan lauk
Wadah makanan titipan adalah salah satu media penyelundupan paling umum. Foto: Iara Melo / Pexels

Kasus Porong memperlihatkan modus yang sering berulang: wadah dengan dasar ganda atau benda yang direkatkan ke bagian bawah, ditutup makanan agar terlihat wajar saat dibuka sekilas. Di citra X-ray, operator yang terlatih memperhatikan beberapa tanda:

  • Benda persegi panjang yang padat di dasar atau dinding wadah. Baterai ponsel termasuk benda paling gelap di citra barang titipan.
  • Ketebalan dasar wadah yang tidak wajar, terutama jika bagian bawah terlihat berlapis atau bersekat.
  • Kabel tipis dan komponen kecil yang tersebar di dalam makanan, pakaian yang dilipat, atau sabun batangan.
  • Kemasan pabrik yang isinya tidak seragam, misalnya bungkus makanan ringan dengan blok padat di tengahnya.
  • Sol sepatu dan jahitan pakaian yang lebih tebal dari biasanya.

Untuk barang yang tidak muat di terowongan mesin, seperti kasur, lemari kecil, atau dinding dan perabot saat razia kamar hunian, X-ray genggam memungkinkan petugas melihat isinya di tempat tanpa membongkar. Cara membaca tampilannya kami bahas di artikel tujuh mode citra X-ray genggam, sedangkan pertimbangan memilih antara alat genggam dan mesin tetap ada di X-ray genggam vs mesin tetap.

Teknologi hanya separuh jawaban

Alat pemindai tidak menyelesaikan masalah yang berasal dari manusia. Beberapa hal yang sama pentingnya:

  • Alur yang sama untuk semua orang. Sejak 2017, Kepala Lapas Narkotika Jakarta saat itu menegaskan bahwa narkoba dan barang terlarang diduga kuat masuk lewat pintu portir, baik oleh pengunjung maupun oknum petugas. Petugas yang keluar-masuk sebaiknya melewati alur pemeriksaan yang sama.
  • Rotasi dan pengawasan operator. Operator yang terlalu lama di posisi yang sama lebih mudah lelah, lengah, atau ditekan. Rotasi dan supervisi menjaga kualitas pemeriksaan.
  • Arsip citra. Citra dari setiap temuan adalah bahan pelatihan paling berharga, dan bukti yang kuat saat penindakan.
  • Penanganan jalur lain. Lemparan dari luar tembok tidak terjangkau mesin di pintu portir. Jalur ini ditangani dengan CCTV, patroli, jaring pengaman, dan razia kamar rutin dengan detektor genggam.
  • Perawatan alat. Mesin yang rusak atau tidak terkalibrasi diam-diam membuka kembali celah yang sudah ditutup. Jadwalkan perawatan dan kalibrasi berkala agar kualitas citra tetap konsisten.

Checklist untuk pengelola lapas dan rutan

  1. Petakan jalur masuk. Catat dari mana saja barang terlarang pernah ditemukan dalam setahun terakhir: barang titipan, tubuh pengunjung, lemparan, atau orang dalam.
  2. Pastikan semua barang titipan melewati X-ray. Tanpa pengecualian untuk makanan atau barang yang "sudah biasa".
  3. Tentukan kebijakan body scanner. Untuk semua pengunjung, atau selektif berdasarkan profil risiko, lengkap dengan prosedur tertulis dan izin Bapeten.
  4. Terapkan alur yang sama untuk petugas. Pemeriksaan yang hanya berlaku bagi pengunjung meninggalkan satu jalur terbuka.
  5. Latih dan uji operator. Gunakan citra arsip dan benda uji secara berkala untuk mengukur ketelitian pembacaan.
  6. Rawat dan kalibrasi alat. Tetapkan jadwal servis dan siapkan cadangan agar pemeriksaan tidak berhenti saat alat bermasalah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah X-ray bagasi bisa mendeteksi ponsel di dalam makanan?

Bisa. Baterai, papan sirkuit, dan komponen logam ponsel jauh lebih padat daripada makanan, sehingga terlihat jelas di citra X-ray. Inilah yang terjadi pada kasus Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Oktober 2026.

Apakah metal detector cukup untuk mencegah ponsel masuk lapas?

Tidak selalu. Gerbang deteksi logam hanya memberi tanda adanya logam, tidak menunjukkan bentuk dan letaknya, dan tidak bereaksi terhadap narkoba yang dibungkus plastik. Benda yang disembunyikan di rongga tubuh juga tidak bisa diperiksa dengan penggeledahan badan biasa.

Apa bedanya body scanner transmisi dengan body scanner di bandara?

Body scanner di banyak bandara hanya memindai permukaan tubuh. Body scanner transmisi menembus tubuh dengan dosis sangat rendah, sehingga bisa memperlihatkan benda yang ditelan atau dimasukkan ke rongga tubuh. Jenis inilah yang dibutuhkan lapas.

Apakah body scanner aman bagi pengunjung dan petugas?

Body scanner transmisi untuk keamanan dirancang dengan dosis sangat rendah per pemindaian dan mengacu pada standar ANSI N43.17. Ruang operator diberi pelindung, dan penggunaannya memerlukan izin serta pengawasan Bapeten. Penjelasannya ada di artikel dosis radiasi body scanner.

Apa itu Zero Halinar?

Sasaran pemasyarakatan agar lapas dan rutan bebas dari handphone ilegal, pungutan liar, dan narkoba. Pemeriksaan di pintu portir, razia kamar hunian, dan tes urine adalah bagian dari upaya mencapainya.

Kesimpulan

Kasus Porong dan Singaraja terjadi dalam rentang waktu yang hampir sama, tetapi hasilnya berlawanan. Di Porong, ponsel tertangkap karena barang bawaan melewati X-ray. Di Singaraja, ponsel lolos karena tubuh pengunjung tidak bisa diperiksa dengan cara yang sama, dan akibatnya sebuah jaringan sabu berjalan dari dalam sel selama berbulan-bulan.

Menutup celah itu membutuhkan lapisan pemeriksaan yang lengkap: X-ray untuk barang titipan, deteksi logam untuk pemeriksaan cepat, body scanner transmisi untuk yang tidak bisa digeledah, dan petugas terlatih yang menindaklanjuti setiap temuan.

Sedang merencanakan pengamanan pintu portir atau mengevaluasi alat yang sudah ada? Diskusikan kebutuhan lapas atau rutan Anda dengan tim teknis kami.